Percaya. Satu kata yang mudah diucapkan bibir tapi sulit dikatakan hati.
Membangun sebuah kepercayaan pada sesuatu atau seseorang perlu waktu dan proses panjang. Meskipun beberapa mengatakan "Aku percaya" secara lugas tapi pasti masih ada sedikit keraguan menyelimuti hatinya.
Membangun sebuah kepercayaan pada sesuatu atau seseorang perlu waktu dan proses panjang. Meskipun beberapa mengatakan "Aku percaya" secara lugas tapi pasti masih ada sedikit keraguan menyelimuti hatinya.
Malam itu terjadi diskusi tentang bagaimana kamu bisa percaya, dalam kasus ini percaya tentang hal-hal supranatural yang diceritakan beberapa orang.
Pada dasarnya manusia ga terlalu percaya apa yang diucap lidah orang lain.
Sebagai manusia pasti ada rasa ego, persepsi, atau motivasi yang melatar belakangi ucapan dan tindakannya.
Sebagai manusia pasti ada rasa ego, persepsi, atau motivasi yang melatar belakangi ucapan dan tindakannya.
Jadi seperti apa kita harus percaya sesuatu? Harus dengan melihat dulukah?
Ga juga. Ada
beberapa ucapan, ide, paham ataupun values harus diuji dulu. Kalau logis, ada
unsur kebenaran dan bisa dipertanggungjawabkan, barulah kita bisa anggap itu
layak untuk dipercaya.
Kalau gitu kita harus mengalami suatu kejadian dulu?
Ga juga, ga semua hal harus kita alami dulu baru percaya, dan ada hal yang memang
ga bisa kita terima seluruhnya secara langsung.
Apa yang ga bisa kita terima sepenuhnya?
Manusia ga boleh meragukan keeksistensian Tuhan, hanya manifestasi yang dibuat
manusia yang ga boleh kita terima sepenuhnya. Yaa yang baik dan benar kita
terima. Tapi kalau menyangkut hal yang diluar logika, lebih baik kita
komunikasikan langsung sama Tuhan. Intinya apa yang seseorang alami ketika
bersama Tuhan, ga bisa sepenuhnya kita percaya, sekalipun dia seorang nabi,
pendoa atau pemuka agama hebat. Karena secara ga sadar kadang sisi ego manusia
itu muncul dan kita ga pernah tau apakah itu sesuai dengan kebenarannya atau
memang ada unsur hiperbola.
Yup, memang setiap orang punya pengalaman berbeda untuk berjumpa dan dialog
dengan Tuhan. Kadang juga memang terdengar berlebih, tapi begitulah
cerita pengalaman mereka. Entah cara penyampaiannya yang dilebihkan atau tidak
itu biar jadi urusan pribadi dia dengan Tuhan.Yang pasti, kita harus percaya Dia bisa
berkomunikasi lewat cara apapun, bahkan sesuatu diluar pikiran kita.
Firman, itulah cara komunikasi Dia yang paling teruji.
Firman, itulah cara komunikasi Dia yang paling teruji.
Bagaimanapun caramu mempercayai sesuatu biarlah menjadi caramu sendiri. Dan bagaimanapun belajar percaya itu tidak mudah, apalagi dipercayai orang lain.Yang terpenting adalah bagaimana kamu bisa menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Butuh tanggung jawab dan integritas. Jangan lupa selalu mintalah Dia membuat kita menjadi dapat diandalkan.
No comments:
Post a Comment